Hujan di Beranda

Hujan di Beranda
Tampilkan postingan dengan label sensitif not sentimentil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sensitif not sentimentil. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Mei 2014

Hibernasi~

Sepertinya saya melewatkan sesuatu. Sepertinya saya melupakan sesuatu. Membiarkan diri saya tertidur begitu sangat lama.

Dan hari ini saya tersadar, kapan terakhir kali saya menulis dengan benar-benar. Beberapa tulisan memang ada namun hanya teronggok di draft dan kepala. Lalu angin berembus, membiarkannya hilang.

Belakangan ini mencoba menulis di udara, saya sepertinya lupa bahwa udara bisa berubah. Dan semua tulisan saya kacau balau dihantam hujan dan panas. Menguap, mengembun, entar menjadi apa.

Ada banyak cerita namun memang kenyataannya banyak yang tidak bisa dikisahkan. Bukankah setiap insan pernah merasakan seperti itu? Terlalu bahagia, terlalu sedih, terlalu aneh. Mungkin?

Tapi apa pun itu, saya mau kembali menulis kembali. Semoga sepuluh jari tidak kelelahan merangkum banyak cerita yang tidak terceritakan sebelumnya. Doakan saya. 

Senin, 06 Mei 2013

Mencintai itu takdir, dicintai itu kesempatan


Saya percaya bahwa hidup itu adalah untuk belajar. Dalam keadaan bagaimanapun, dalam umur berapa pun dan di mana pun sebenarnya pelajaran itu banyak macamnya. Tergantung subjek sekarang, mau belajar atau tidak.

Sepercaya saya juga bahwa setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru bagi yang lainnya. Kembali lagi kepada sang guru yang apakah mau membagi ilmu yang dipunya atau yang lainnya berniat atau tidak mempelajari ilmu dari orang lain.

Pelajaran tidak melulu tentang bangku sekolah. Tidak melulu tentang hafalan atau hitungan.

Selasa, 12 Februari 2013

Surat #DuaHati [N] dan [PH]

Project hore-hore #30HariMenulisSuratCinta dari @poscinta tahun ini saya ikuti. Namun, karena dirasa tidak sanggup untuk mengikuti menulis solo dan mem-posting setiap hari. Saya mengajak @PriaHujan untuk duet di kategori #DuaHati yang mana merupakan surat berbalas. Kan, lumayan menulisnya dua hari sekali.


Senin, 11 Februari 2013

Untuknya, Sumber Kebahagiaanku

Kamu, yang selalu mengencangkan genggaman ketika bergandengan.

Aku membaca surat dan puisimu semalaman berulang-ulang. Semacam tidak ada orangnya sedang berhadap-hadapan dan tertidur pulas di pelukanmu sampai pagi menyerang.

Masih terbangun dengan mimpi indah yang sama, ah sempurna.

Bahagia.


Sabtu, 09 Februari 2013

Bandung, Penuh Cinta.



Perlukah kita ceritakan kepada mereka, sedangkan kita sudah tahu jalan ceritanya?

Tentang mimpi yang terangkai, tentang angan yang berantai. Ketika itu kamu letakan anganmu di kanan dan aku meletakkan anganku di kiri.

Dan kita merangkainya menjadi sayap, agar kita dapat terbang tinggi bersama satu harap.


Perlukah kita ceritakan bahwa salah satu mimpi besar kita adalah menjelajahi semua pulau yang ada di Indonesia berdua? Menikmati indah pantainya, biru langitnya, cantik pemandangannya, tinggi gunungnya, penuh sensasi pertualangannya? Dari Sabang sampai Papua? Dari Nol Kilometer sampai Puncak Jaya?

Kamis, 07 Februari 2013

Halo-halo (from) Bandung

Halo, selamat pagi sayang..

Entah, ini masih seperti mimpi. Ketika aku terbangun dan mendapati sesosok yang sangat dicintai sedang terlelap di depan tivi. Ah, maaf sayang. Aku tidak dapat menahan untuk tidak menciumi wajahmu bertubi-tubi.

Sesaat kamu terbangun, dengan wajah menahan kantuk. Aku suka ekspresi lucu itu. Kamu memang lelaki yang tegar di saat badai, namun masih bisa menampilkan mimik innocent, seperti bayi.

Selasa, 05 Februari 2013

BTJ - MES - BDO

Terkadang yang kamu perlukan adalah berhenti berkata rindu dan lakukan sesuatu.
"Hai langit siang, kenapa kau tersenyum? Seperti meledek seorang gadis yang sedang riang," ucap saya dalam hati. Tiba-tiba saya tertegun, sudah lama saya tidak menyapa langit dengan senyuman. Sudah lupa kapan terakhir kali seperti itu. Saya mungkin terlalu sibuk dengan perasaan yang berkecamuk.

Minggu, 03 Februari 2013

Ada yang Tidak Padam


Gemintang itu riang sekali menemui malamnya. Mereka tersenyum dengan bahasa cinta yang saya mengerti. Kira-kira bersediakah mereka jika kali ini kutitipkan surat cinta untuknya di sana?


--

Rabu, 30 Januari 2013

Surat dari Iboih


Baru saja kaki menapak ke dermaga Pantai Iboih di Pulau Weh. 

Seseorang menyapa saya, teman lama bersama kekasihnya, rupanya mereka sedang berbulan madu di sini. 

Ia menanyakan kamu. Saya tergugu, rasanya ingin bisa berkata sepertimu mengakui keberadaan saya bahwa “Ada di sini” sambil menunjuk hati. Sayangnya lidah saya kelu walaupun tangan sudah memegang dada kiri.

Saya adalah sebenar-benar pecundang.

Senin, 28 Januari 2013

Berbahagialah!

27 Januari 2013, Pukul 10.30 WIB

Pesawat saya landing di Banda Aceh (BTJ). Sebelum dipersilahkan turun, saya tertegun mendengar pengumuman di pesawat. Biasanya saya tidak pernah peduli, entahlah sekarang saya sering peduli hal-hal kecil dan sering melupakan hal-hal besar.

“Selamat datang di Banda Aceh. Selamat berpisah dan sampai jumpa, semoga bertemu kembali.”

Saya tertegun. Mudah sekali ia mengucapkan perpisahan. Iya, karena perpisahan sebenarnya juga adalah perayaan.
Betul juga.

Sabtu, 26 Januari 2013

Sampai Jumpa



Harusnya saya tidak usah menanti.

Harusnya saya tidak usah terbangkan harapan tinggi-tinggi.

Harusnya saya melupakan semua apa yang sudah terjadi.


Saya sudah mencarimu dalam semesta bernama nyata, namun tak ada. Saya merindumu dengan keterlaluan rasanya. Saya mencintaimu dengan berlebihan, membuat saya selalu menunggumu pulang bahkan ketika kamu lupa ingatan. 

Kamis, 24 Januari 2013

Karam, dalam Penantian


Di sini hujan, tidak ada bintang. Kita masih berada di bawah langit yang sama, sayang. Walaupun belahan bumi sudah berbeda, aral membentang.

Kamu, yang tak tahu pasti kita berada di mana sekarang. Bukankah di bawah gerimis senja kita pernah berjanji tidak akan pernah saling melepaskan?

Di langit malam ini, kuntum-kuntum bunga api bermekaran. Menaburi gundukan dunia yang basah oleh tangisan hujan. Hujan menuntun tangan saya untuk berziarah ke sebuah makam bernisan ‘kenangan’.

Selasa, 22 Januari 2013

ENTAH!


Dulu, ada seorang pria yang sering menyenandungkan lirih lagu ini di telinga saya. Di antara malam dan hujan.


Perlu digarisbawahi, ia bersenandung lirih sambil menatap saya dalam pelukannya. Pelukan yang erat dan rapat. Pelukan dalam dan tidak ingin kehilangan. Pelukan lapang dan selalu menjadi yang ternyaman.

Minggu, 20 Januari 2013

Merindui Bersandar di Dada Kiri Itu


Aku baru sampai rumah jam satu malam. Aku mengantuk dan lelah. Di Makassar pasti sudah jam dua malam. Aku ingin menghubungimu, tapi tidak mau mengganggu lelapmu.

Dini  hari ini, aku memutuskan untuk tidak tidur cepat. Aku menunggu hujan, tapi hujan belum datang. Kamu tahu siapa yang datang? Sesuatu bernama kenangan. Dalam langit malam yang gemintang. Dalam lagu yang kuputar.

Ah, kita pernah membahas sebelumnya. Kita pernah sepakat, bahwa ‘Musik adalah mesin waktu yang sederhana’. Kali ini aku bukan hanya refleks bersenandung Mesin Penenun Hujan, juga lagu ini..

Jumat, 18 Januari 2013

Tak Ada Alasan Baku, untuk Mencintaimu

Aku terbangun tengah malam, mendapati sesuatu yang selama ini ditunggu datang.

Hujan. Hujan yang selalu aku cinta. Hujan yang selalu mengembalikanmu dalam kenanganku.

Sayang, kamu pernah ingat satu hal yang pernah aku bilang?

“Cinta bukanlah cinta bila tidak berairmata. Sedih ataupun bahagia”

Rabu, 16 Januari 2013

Yang Tidak Bi(a)sa Melupakan


Kamu, yang tidak bi(a)sa melupakan.

Aku sudah sampai Medan dan aku (sudah) kehilangan.
Merasa bahwa separuh jiwaku kosong, dibawa terbang, lari ke awan. Awan yang terlihat sangat murung mendung, ataukah mataku yang berembun?

Sejujurnya, aku tidak mau menangis.
Karena sudah tidak ada lagi penyeka air mata yang selalu tersenyum manis. Tidak ada lagi pelukan pertama yang tidak akan pernah kita lepas selamanya.

Senin, 14 Januari 2013

(Not) Beautiful Goodbye




Dear, Pria Hujan

Di perjalanan menuju pulang, aku tidak henti-hentinya membujuk langit agar tidak muram. Namun, hujan pun tetap berair mata.

Sesungguhnya perpisahan adalah abadi, kita yang tidak pernah ambil peduli.

Sekarang, biarlah aku kembali, menyusun ulang pecahan hati, mengais takdirku sendiri.

Setiap kita akan berpisah, semua beralur seperti itu. Harusnya tak perlu ragu.

Atau aku yang membahasakan sedemikian sendu? Entahlah.

Kamis, 15 November 2012

Kita Adalah Punggung yang Saling Bertatap


Akhirnya kita berpisah.
Setelah sekian waktu, selalu mengucapkan "Selamat Tinggal" tanpa pernah meninggalkan.
Kali ini, masing-masing kita pergi tanpa pernah berucap lagi.
Berjalan berlawanan arah. Saling membelakangi.
Dan punggung-punggung kita semakin berjalan menjauh.

Minggu, 11 November 2012

Berhenti Berekspektasi


Saya sedang di beranda, menatap hujan pagi yang menggoda lalu teringat akan kamu yang tiada.

Jika rasa sedalam apapun bisa disembunyikan, bukankah mata tidak mampu berbohong?

Ia adalah jendela untuk rumah bernama hati.
Dan saat ini, ia bahkan berusaha menceritakan rahasia-rahasia yang saya pendam sendiri.