Hujan di Beranda

Hujan di Beranda

Jumat, 01 Februari 2013

Nightmare!


Ada hujan yang tiba di pukul tiga pagi. Deras sekali, berpetir menggelegar, tak henti-henti.


De javu!

Ya Tuhan, mengapa hujan ini sama seperti di mimpi saya tadi?
Apa artinya semua mimpi ini? Mengapa terasa begitu lekat dan nyata sekali?
Ya Tuhan, tolong jaga dia saat saya bahkan jauh darinya.
Jaga dia dari semua kejahatan dan rasa sakit di dunia.
Jika Engkau ingin marah, marahi saya saja, jangan dia.
Tolong, Tuhan.

--

Aku tersenyum berusaha memaniskan muka di hadapannya, kedua tanganku memegang erat dua tangannya yang melemah, ku tatap wajahnya mencari sorot dua mata lain yang menghindari tatapanku.

Lelaki itu melepaskan genggamannya, gusar, sedikit marah. Aku mencoba meraih genggamannya lagi, namun tangannya menolakku.

Dermaga Iboih dan hujan rintik-rintik menjadi saksi, ia memutar badannya dan berjalan menjauhiku tanpa berkata apa-apa. Aku memanggilnya, ia masih tanpa suara. Berjalan ke arah bibir laut yang tenang.

“Kamu mau kemana?” ucapku tanpa digubrisnya. Ia masih saja berjalan membelah air.

Seketika hujan menjadi deras, awan gelap dan petir sambar menyambar nyaring sekali. Petirnya dekat sekali dengan kepala kami. Aku berusaha memanggilnya kembali, ia tidak juga mendengar. Aku teriakan berkali-kali. Ia masih juga tidak mendengar. Ia sudah di tengah lautan. Di bawah awan gelap dan petir menyambar.

Aku terpekik berteriak keras terus memanggilnya dan petir menyambar kepalanya.
--
Di luar masih hujan deras. Tidak bisa kembali tidur. Jika kamu sudah terbangun pagi ini, dan mendapati puluhan nomor asing menelponmu. Itu adalah aku.

Where are You? I'm worry. -Message Sent

[N]

Surat ini balasan untuk: Surat Dari Hati

Tidak ada komentar: