
--
Selamat Malam, pria penguasa tahta kerajaan hujan.
Rupanya, kemarin ada yang berlutut ke tanah dan memohon langit agar bergemuruh ya? Ada yang meminta jangan pergi dengan mengirimkan semua pesan dari hati kepada matahari yang akan berganti.
Pantas saja hujan begitu deras di mimpi dan nyataku. Pantas saja hujan begitu menakutkan dimataku. Tidak pernah-pernahnya begitu.
Pantas saja hujan begitu deras di mimpi dan nyataku. Pantas saja hujan begitu menakutkan dimataku. Tidak pernah-pernahnya begitu.
Kamu lelah, aku tahu. Teramat lelah. Terima kasih telah
sekuat tenaga memperjuangkan aku dan kita.
Semoga cintaku bisa menjadi selimut hangat malammu. Sehingga
kamu tidak akan kedinginan lagi.
Kamu, yang tidak pernah aku mau beritahu bahwa aku
menangisimu.
Saat melepasmu pergi jauh, sebenarnya hatiku tetap ingin
menunggu. Saat kamu menghilang, aku tak tahu hendak ke mana akan mengadu. Saat
kamu redup, aku bergumul rindu semu.
Aku cinta kamu oleh karena itu aku menangis. Tangisan yang
hanya bantal yang tahu. Entah tangis kesedihan, perpisahan atau kerinduan.
Ada banyak cerita yang ingin aku labuhkan ke pelukanmu hujan.
Ternyata aku hanyalah gersang yang selalu memerlukan kehadiranmu. Atas nama
cinta, aku melanggar segala janji yang aku buat sendiri. Mungkin saat itu juga,
waktu ingin membuktikan, bahwa cinta tidak memerlukan janji-janji kosong..
Tentangmu, ada yang tidak bisa hilang
Takkan mudah dilupakan.
Takkan mudah dilupakan.
Dan ada
yang tak pernah padam di sini, di dalam hati.
Baiklah, kita akan berjumpa esok hari, di kota tempat
kita bertemu pertama kali.
Yang tidak sabar menanti esok hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar