
Harusnya saya tidak usah menanti.
Harusnya saya tidak usah terbangkan harapan tinggi-tinggi.
Harusnya saya melupakan semua apa yang sudah terjadi.
Saya sudah mencarimu dalam semesta bernama nyata, namun tak ada. Saya merindumu dengan keterlaluan rasanya. Saya mencintaimu dengan berlebihan, membuat saya selalu menunggumu pulang bahkan ketika kamu lupa ingatan.
Dan, akhirnya saya sadari, saya sedemikian bodoh untuk menangis, saat terperangkap dalam labirin kenangan ini yang tidak diketahui di mana akan
terhenti.
Saya lupa atas perkataan dan janji saya sendiri. Memang
benar, cinta itu membutakan mata hati.
Katamu, “Kita harus bergerak.”
Bergerak k emana? Ke mana kita harus berjalan, jika arah kita berlainan?!
Bergerak k emana? Ke mana kita harus berjalan, jika arah kita berlainan?!
Kita sudah berbeda dan kita tidak bisa apa-apa. Bukan saya tidak berusaha, dan kamu juga bukannya diam saja. Tetapi, semakin kita mencoba, semakin kita berputus asa.
Seseorang mengatakan kepadaku, “Melepaskan adalah hal terbaik
yang bisa kita lakukan untuk mereka yang kita sayangi.”
Demi segala kebaikan antara kita, sudah seharusnya saya melepaskanmu. Saya tahu melepasrelakan itu sulit, namun kata Ibu saya, hal-hal terbaik tidak dicapai dengan mudah.
Demi segala kebaikan antara kita, sudah seharusnya saya melepaskanmu. Saya tahu melepasrelakan itu sulit, namun kata Ibu saya, hal-hal terbaik tidak dicapai dengan mudah.
Kamu terbaik yang saya punyai, dan saya mendapatkan senyum hangat itu, peluk hujan itu, dada kiri nyaman itu, dan gelombang cintamu itu tidak
mudah. Begitu juga dalam melepaskanmu, inilah jalan terbaik yang kita punya,
dan juga tidak mudah.
“Kamu, akan mendapatkan cinta yang layak sayang, bukan dari
manusia seperti saya. Saya hanyalah pencundang, tidak berani mencintaimu
terang-terangan, hanya dari belakang.”
Kamu akan menemukan wanita yang lebih baik dari saya. Yang cintanya tangguh luar biasa. Yang tidak akan menyerah dalam tangis ataupun erangan. Yang akan terus keras kepalanya mempertahankanmu.
Maaf, jika kamu butuh jawaban atas pertanyaanmu kemarin.
Jawaban saya: baiknya kita hentikan saja
semua cerita ini, dan surat ini harus berhenti sampai disini. Lupakanlah tentang dua puluh tujuh, lupakanlah.
Mungkin saya akan berhenti menulis, mungkin juga saya akan terus
menulis surat, surat yang tidak akan pernah saya sampaikan lagi. Cukup saya bakar dan
larung ke lautan luas. Biarlah samudra menelan perasaan saya rapat-rapat.
Sampai jumpa. Jaga dirimu baik-baik.
Pecundangmu.
[N]
[N]
Surat ini balasan untuk: Hujan, dan kenangan. Kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar