Terkadang yang kamu perlukan adalah berhenti berkata rindu dan lakukan sesuatu.
"Hai langit siang, kenapa kau tersenyum? Seperti meledek
seorang gadis yang sedang riang," ucap saya dalam hati. Tiba-tiba saya tertegun,
sudah lama saya tidak menyapa langit dengan senyuman. Sudah lupa kapan terakhir
kali seperti itu. Saya mungkin terlalu sibuk dengan perasaan yang berkecamuk.
Banda Aceh – Medan – Bandung, ini bukan perjalanan biasa. Ini perjalanan panjang untuk kembali kepada pelukan yang dicinta. Tanpa perlu banyak basa-basi atau bunga-bunga cerita, terkadang kita hanya perlu berhenti berkata rindu dan lakukan sesuatu.
Dan, saya melakukannya sekarang. Pilihan cuma dua di tangan:
lakukan atau tidak sama sekali.
Tentang Bandung, tentang pria berhidung mancung bermuka
bingung. Tiba-tiba menghampiri saya yang sedang mengaduk segelas kopi moka. Ia
tersesat, matanya pekat, namun ada sesuatu yang menyejukan di sana. Serupa hujan,
melegakan, dirindukan.
Ketika saya jatuh dalam semesta cinta, dunia seperti tidak berkutub. Tidak ada
utara dan selatan, timur dan barat. Perbedaan membuat kami menjadi saling
tarik-menarik dan persamaan juga bukan hal yang membuat tolak menolak.
Kami semakin lekat, tidak berkutub. Membeku, mengkristal, mencair, mengembun,
menguap, menyublim bersama-sama. Saya adalah dia, dia adalah saya.

Langit di luar menjadi malam. Dan ingatan masih tentang
Bandung dan cinta datang menghampiri. Masih tentang Bandung dan lampu-lampu
malam yang serupa bintang, katamu. Selalu, selalu, dan selalu ingin dapat
kembali ke tempat itu, bersama orang yang dituju, ke tempat pertama kali
bertemu.
Selamat datang di Bandar Udara Hussein Sastranegara, Bandung. Waktu menunjukan pukul delapan malam, tidak ada perbedaan waktu antara Medan dan Bandung.
"Apakah ini kembali? Bahwa sesungguhnya aku tidak
pernah benar-benar pergi?" tanyaku pada hati sendiri, saat melihat pria yang
sedang menunggu berdiri, ke arah pintu kedatangan dalam negeri.
Perempuan yang kembali menyublim dalam dadamu,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar