Kamu, yang tidak bi(a)sa melupakan.
Aku sudah sampai Medan dan aku (sudah) kehilangan.
Merasa bahwa separuh jiwaku kosong, dibawa terbang, lari ke awan. Awan yang terlihat sangat murung mendung, ataukah mataku yang berembun?
Sejujurnya, aku tidak mau menangis.
Karena sudah tidak ada lagi penyeka air mata yang selalu tersenyum manis. Tidak ada lagi pelukan pertama yang tidak akan pernah kita lepas selamanya.

Dan ... kita, tidak bisa lagi bersama. Untuk bisa saling memeluk secepatnya.
Kita adalah cinta yang tidak pernah habis, katamu. Namun. kita adalah sepasang hati yang meringis, terpisah jarak dan waktu.
Akankah engkau tahu? Sosokmu telah melebur menjadi debu, menempel di setiap benda yang aku sentuh, dalam setiap udara yang aku hirup, dalam setiap suara yang aku dengar, dalam setiap bayang yang aku tatap. Kamu ada dalam segalaku.
Biarlah rindu ini kita hancurkan dan menjadi partikel di udara. Untuk dapat kita nikmati bersama saat hujan reda, di langit kita yang sudah beda. Sungguh Medan – Makassar bukanlah jarak yang tanpa jeda.
Aku ingin menjadi pencintamu yang tulus, tanpa noda.
Kapankah kita tuai rindu yang kita sebar, sayang?
(masih) Pencinta Hujan (mu)
[N]
2 komentar:
Bagus :')
Makasih Mbak Mey.. :)
Posting Komentar