Hujan di Beranda

Hujan di Beranda

Minggu, 20 Januari 2013

Merindui Bersandar di Dada Kiri Itu


Aku baru sampai rumah jam satu malam, aku mengantuk dan lelah. Di Makassar pasti sudah jam dua malam. Aku ingin menghubungimu, tapi tidak mau mengganggu lelapmu.

Dini  hari ini aku memutuskan untuk tidak tidur cepat. Aku menunggu hujan. Tapi hujan belum datang.
Kamu tahu siapa yang datang? Sesuatu bernama kenangan. Dalam langit malam yang gemintang. Dalam lagu yang kuputar.

Ah, kita pernah membahas sebelumnya. Kita pernah sepakat, bahwa ‘Musik adalah mesin waktu yang sederhana’. Kali ini aku bukan hanya refleks bersenandung Mesin Penenun Hujan, juga lagu ini..

Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata, Ketika kita berdua, Hanya aku yang bisa bertanya, Mungkinkah kau tahu jawabnya.
Malam jadi saksinya, Kita berdua diantara kata, Yang tak terucap, Berharap waktu membawa keberanian, Untuk datang membawa jawaban.
Mungkinkah kita ada kesempatan, Ucapkan janji takkan berpisah selamanya.

Kamu ingat? Lagunya Berdua saja-nya Payung Teduh yang (akhirnya) kita sepakat menyukainya. Iya, lagu ini mengingatkan aku pada satu malam kita berbaring bersama di dermaga tak bernama, menatap langit yang tua.


Ah ya, bintang-bintang. Itu adalah makhluk malam kepunyaan kelam. Jadi ingat mimik mukamu yang selalu terkesima mendengar ceritaku bahwa aku tidak pernah lihat bintang seindah itu di kota Medan. Dan kamu tertawa waktu aku bilang bintang disana tertutup ruko tinggi dan spanduk besar membentang.

Dan kita akan terus cerita entah berapa lama, sampai tetes hujan jatuh menghujami pipi kita berdua, namun kita sangat menikmatinya. Kita tetap akan berbaring menengadah, menikmati hujan kita. Jika sudah menggigil, maka genggaman akan semakin erat menjadi pelukan di bawah pohon ‘penahan hujan’ kita sampai hujan mereda dan bintang kembali terang.
Hujan adalah cara alam meretas keangkuhan dua insan, yang menolak berpelukan.
Sayang, tadi sewaktu aku sedang mengikuti acara kantor, ntah mengapa aku fokus dengan interior langit-langitnya. Aku tidak peduli Direktur atau Kepala Divisi presentasi apa. Aku mengambil duniaku sendiri dan tertegun menatapi langit-langit itu. Lampunya berbaris rapi, dengan bohlam kecil berwarna kuning. Seperti gemintang setelah senja yang kita tatap sambil berbaring di pulau itu. Dan aku sendu.


Katamu, Cinta adalah ketika kita bersama dalam kebisuan, dan kita tetap merasa begitu nyaman. Jika itulah definisi cinta, mungkin benar kata mereka, saat ini aku sudah jatuh. Jatuh kepada kamu, karena aku merasa begitu nyaman akan semua hal yang ada pada dirimu. Aku seperti menemukan diriku sendiri. 

Syukurlah jika aku masih hidup di dadamu itu. Dada yang nyaman dan lapang dan aku selalu ingin kembali ke dada itu. Aku hanyalah seorang pemurung yang selalu melamun setiap kali melihat hujan menebar kerinduan akanmu. Aku adalah pemurung yang selalu mengembangkan senyum palsu dan berkata Baik-baik saja” ketika mereka selalu bertanya keadaanmu, keadaanku, keadaan kita.

Tadi sebelum pulang, seorang teman kantor  menghampiri mejaku, menatapku dalam. Ia hanya tersenyum tipis dan berkata; “Kau tidak seperti biasanya semenjak pulang dari Makassar. Kau lebih pendiam, beda dari yang ku kenal. Kalau ada apa-apa cerita samaku ya..”

Itu seperti tepukan halus di muka, aku kaget. Ternyata mereka memperhatikanku dan aku lebih maklum mengapa mereka belakangan ini sering menanyakanmu secara bergantian. Akhirnya aku menyadari bahwa mereka adalah orang-orang yang peduli dengan kita. Aku yakin, mereka punya doa yang sama; berharap kita baik-baik saja.

Duh, aku jadi berkaca-kaca lagi. Iya, iya aku sudah berjanji sama diri sendiri. Untuk menjadi wanita tangguhmu yang lebih tegar hari ke hari. Sebenarnya banyak cerita yang ingin aku ceritakan. Tidak punya kekuatan ceritakannya lewat kata atau suara. Aku ingin bercerita dari tatapan mata saja. Dan aku rindu dipelukmu setelahnya.

Menempelkan telinga di dada kirimu, merasakan detak jantung itu dan melabuhkan semuanya disitu.

Kuulangi, Aku selalu rindu bersandar di dada kirimu, merapatkan telinga kesitu dan mendengar detak jantungmu yang menenangkan.


Aku rindu. Aku rindu. Aku rindu. Bunuh saja aku.

Nb. Aku masih saja tidak menyanyikan bait reff lagu Mesin Penenun Hujan-nya Frau secara utuh. Iya, aku masih tidak suka dengan lirik ‘kau sakiti aku, kau gerami aku, kau benci aku’ karena setiap menyanyikan itu aku ingat kamu, dan lirik itu tidak relevan dengan kamu.

Yang merindui berada di dada kirimu.

[N]

Surat ini balasan untuk : Perempuan yang selalu menatap hujan

2 komentar:

Ojan Rajawali mengatakan...

Ilustrasi sandal dan pasir mengingatkan aku pada satu waktu diakhir Januari lalu...
Cerita yang keren mbak Nadya...!!!

Rindu itu membuncah diawal bulan kedua Masehi ini...!!!

kunjungi berandaku juga ya...!!
http://ojan-tolare.blogspot.com/

Nadya Ratna Sari mengatakan...

Hai, mas Ojan..

Makasih atas kunjungannya.

Siap kunjungi balik.. :)