Hujan di Beranda

Hujan di Beranda

Kamis, 24 Januari 2013

Karam, dalam Penantian


Disini hujan, tidak ada bintang. Kita masih berada di bawah langit yang sama, sayang.  Walaupun belahan bumi sudah berbeda, aral membentang.

Kamu, yang tak tahu pasti kita berada dimana sekarang. Bukankah di bawah gerimis senja kita pernah berjanji tidak akan pernah saling melepaskan?

Di langit malam ini, kuntum-kuntum bunga api bermekaran. Menaburi gundukan dunia yang basah oleh tangisan hujan. Hujan menuntun tangan saya untuk berziarah ke sebuah makam bernisan ‘kenangan’.


Keseluruhan cerita terputar dalam pelupuk mata yang sembab. Ada resah, ada gelisah.

Hujan malam hari adalah sepekat-pekat tangisan. Hujan selalu menyajikan potongan kenangan usang, tentang kehilangan, tentang penantian, tentang kamu yang tak kunjung datang dan tentang kita yang patah arang.

Saya sedang apa? Berjalan kemana? Tujuannya apa? Dan akan kembali kemana?

Sejatinya itu adalah pertanyaan besar. Dan apakah saya harus puas dengan jawaban ‘Entahlah’ dari seseorang, yang saya harapkan jawabannya menenangkan?

Apakah saya harus tetap bersandar pada tiang yang mulai goyang? Sayalah perahu kecil yang lelah di pengarungan dan ingin pulang, namun dermaga sandaran sedang diterjang badai. Tidak tahu kemana akan pulang, sedangkan laut mulai ganas dan siap menelan kapan saja.

Kamu menunggu saya, saya menunggu kamu. Mungkin itu sebabnya kita tidak pernah bisa bertemu.

--

Ada yang makin lebat di luar sana, tangisan kehilangan yang makin merapat. Saya telah tertidur dan terbangun lagi, hujan belum reda dan kamu belum jua tiba.

Adalah dini hari dimana hujan menemani saya menanti sesuatu yang tanpa tentu, sebut saja kamu.

Saya sedang belajar mengeja rindu, agar lidah saya tidak kelu untuk dapat diungkapkan kepadamu. Rindu yang bertahan, dalam panas atau hujan. Rindu yang membunuh saya pelan-pelan.

Apakah hujan disana menyampaikan setetes demi setetes rinduku ke hadapanmu? Apakah kamu akan tetap tersenyum melihat hujan meski kita telah berada di belahan bumi yang berbeda?

Sesungguhnya saya menanti kamu. Dalam zona abu-abu.

Apakah kamu tahu bahwa saya selalu menunggu dalam sakit dan tenggelam? Dalam lelah dan berantakan? Kamu pernah tau disia-siakan? Pernahkah merasa semua usahamu hampa? Kamu pernah merasa jadi yang tersingkirkan? Kamu pernah merasa meraih tanpa menggenggam?

Itulah rasa saya sekarang. Jangan bertanya nisan, saya akan mati karam dilamun ombak lautan, karena sudah tidak ada lagi dermaga sandaran.

[N]

Surat ini balasan untuk: Entahlah

Tidak ada komentar: