Hujan di Beranda

Hujan di Beranda

Sabtu, 21 Agustus 2010

AK-47




“AK-47 saya hilang, ada yang melihatnya?”
Twit saya di hari jum’at kemarin. Beberapa followers yang ga ngeh pasti merasa saya edan, mungkin malah ada yang merasa saya berkhayal, atau mungkin ada yang mengira senjata buatan Rusia itu benar-benar hilang, sisanya mengganggap itu adalah jokes, jokes sok asik lebih tepatnya.
Tapi kesimpulan yang mana yang benar? Mungkin benar itu sekedar jokes, majas lebih tepatnya.


Majas Sarkasme, sebuah sindiran. Mengapa begitu?
Yah, karena saya barusan terpesona dengan hasil jepretan candid foto-foto yang di pamerkan di sebuah stasiun TV swasta, memperlihatkan bahwa begitu gagahnya para sindikat perampok itu berdiri sambil memegang AK-47 di dadanya berpose di depan CIMB Niaga cabang Aksara, Medan.
Hebat bukan? Marilah kita bertepuk tangan..
Mereka memakai jaket, sarung tangan dan juga helm menutupi seluruh muka. Untung saja tidak ditambah atribut-atribut seperti syal kotak-kotak dan jubah panjang. Niscaya mereka akan tampak seperti para milisi yang salah jurusan, atau milisi dengan nilai nekat ber-point 9,5. Nyaris sempurna!

Sempurna karena mereka berani melakukan perampokan di sebuah bank yang notabene beroprasi di pinggir sebuah jalan padat penduduk, sempurna karena selama aksi mereka yang berdurasi 30 menit lamanya tidak ada tindakan tanggap dan kilat yang berarti dari aparat berwenang, sempurna karena setelah aksi itu tidak ada yang berhasil mengejar mereka walaupun mereka hanya mengendarai motor bebek biasa.

Siapakah mereka?
Well, we don’t know.. mungkin saja sekelompok orang kekurangan yang putus asa menjelang lebaran karena kenaikan harga serempak di mana-mana lalu melakukan aksi nekat, mungkin saja mereka adalah utusan dari “orang hebat” yang di tugaskan untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kasus-kasus negara yang lebih serius, atau mereka sendiri adalah aparat? Karena hanyalah aparat dan milisi serta para pemberontak yang mempunyai senjata sejenisnya.

Sebenarnya siapapun mereka dan apapun tujuan mereka, negara harus bisa menuntaskannya. Ini sebagai pembuktian bahwa negara menjamin rasa aman rakyatnya, bukan hanya penjaminan rasa aman ketika berada di lingkungannya, tetapi juga penjaminan rasa aman terhadap sejumlah aset investasi rakyatnya. Masih belum kabur di ingatan, bagaimana marahnya para nasabah Bank Century karena uang mereka tidak bisa dibayarkan kembali, lalu? dengan adanya perampokan-perampokan yang kalau tidak ditanggulangi akan menghantui bank-bank lainnya, pasti negara akan rugi menanggung seluruh uang tersebut. Dampaknya, ketidakberdayaan negara untuk mengembalikan uang yang di simpan rakyat di bank. Dan jangan dipersalahkan jikalau pada akhirnya, masyarakat dan rakyat kembali primitif menyimpan uang di balik kasur maupun di laci lemari. Lebih parahnya lagi kalau antar masyarakat sudah tidak ada kepercayaan satu sama lain, sudah blur, sehingga prasangka buruk lebih mendoktrin otak terhadap semua gerak-gerik orang di sekitarnya.

Tiba-tiba otak saya berpikir sedikit politis, “ataukah orang-orang tersebut memang bertujuan merenggut rasa aman dan meneror masyarakat?”

2 komentar:

ajeng sekar tanjung mengatakan...

*nanya*
milisi apa kak nad?
well.. kalo menurut gw sih harusnya mereka bisa terungkap. apalagi dengan photo-photo yang jelassss banget itu..

nadya ratna sari mengatakan...

hahaha.. sori gw baru baca komen lu..
milisi itu orang sipil yang di persenjatai dan dilatih oleh aparat..