Hujan di Beranda

Hujan di Beranda

Minggu, 09 Mei 2010

apa ini rakyat Indonesia?

kemarin, di sabtu siang yang panas. sehabis saya dan pacar saya dari berjemur, berkunjung ke proyeknya pacar sembari menemani pacar saya memantau perkembangannya, kami lalu menuju rumah keluarga besarnya.
rumah keluarga besar pacar saya itu adalah rumah kakeknya yang berada di pusat kota medan.sebenarnya saya suka lingkungan daerah rumah tersebut, penuh rumah- rumah cantik dan asri, walaupun ada beberapa yang masih mempertahankan rumah lamanya tapi tetap keren! lingkungannya bersih dan segar. sampai kemarin siang semua mengubahnya.


*
misi kami siang ini adalah mengantarkan kartu pemilih ke masyarakat yang masuk ke dalam daftar pemilih di lingkungan TPS1 dimana pacar saya yang menjadi ketua KPPSnya. ini tugas negara!
kami pun bersedia menyisingkan lengan dan mengantarkannya satu per satu.


di mulai dari rumah pertama yang letaknya tidak sampai 100meter dari rumah pacar yang di tanggal 12 mei besok di jadikan TPS. rumahnya berwarna hijau terang, berpagar tinggi dua kali lipat tinggi saya.
pagarnya ga kreatif! boro-boro ada ukiran, pagar setinggi dua setengah meter itu lebih layak sebagai pagar penjara! pagar tebal lempeng aja kayak tempelan besi. daaaannn tidak ada bel!!! ada pos satpam tapi gada penghuninya.. luckynya, pagarnya ga di kunci, berkali-kali ngetok rumah dan ngebel rumah gada jawaban, berkali-kali memanggil juga hasilnya nihil. padahal di halaman ada 2 buah motor dan mobil loh! tewas semuakah orang di dalam? *ALLAHUALAM*


karna cape, kami skip dulu rumah yang tadi..
rumah ke-dua, lebih keren lagi! rumah lama! di atapnya ada tulisan di buat tahun 1951..
sangking lamanya, rumput-rumput udah kayak semak belukar, sangking lamanya, jendela-jendela berabu dan sangking lamanya, dua-dua gembok di dua-dua pagarnya karatan semua! well, gada orang!
*reett.. kami coret dari daftar! dan kami tulis : RUMAH KOSONG*


kami lalu ke rumah yang ketiga, yang tadi nomer rumahnya kelewatan sama pandangan dan mobil kami.
rumah ke-tiga ini rumah baru! lengkapnya rumah lama yang di hancurkan dan di bangun baru. kondisi rumah masih tujuh puluh persen jadi, rumah kosong, di tutupi seng sebagai pagar dan tukang-tukang bangunannya pun gada. kesimpulannya? *RUMAH KOSONG*


lanjut ke jalan yang lain, saya lalu mengurutkan nomer rumah yang akan kami datangi.
rumah di daerah itu seperti kompleks, jalan-jalannya besar dan berpotongan. maklumlah lumayan di tengah kota. rumah yang kemudian kami datangi adalah rumah di nomer 1 jalan Airlangga.
bakat intel saya udah terasah ketika melihat dua buah koran sudah lusuh tergeletak ga jauh dari rel pagar. karena itu berarti koran yang di antar tukang koran pun, tidak terambil setiap paginya kan? bener aja.. setelah di panggil-panggil, keluar seseorang berpakaian rumah dan waktu di cek, nama-nama yang ada di daftar pemilih yang notabene di ambil dari kartu keluarga alamat rumah tersebut, sudah tidak valid! Alias orangnya udah pindah ntah kemana!
*kembali lagi mencoret lembaran yang berisi form dan kartu pemilih dengan tulisan : PINDAH*


perjalanan kami terus berlanjut, keringetan, panas, haus, pengap. semua jadi satu! hiburan kami cuma waktu balik dari rumah terus masuk ke mobil, nyesss.. jadi adem lagi..


selanjutnya, ada yang suratnya kami titip sama kepala lingkungannya, kebanyakan sama pembantunya, dan sisanya kebanyakan lagi di coret-ret-ret.


ada cerita yang sangat miris. saya coba mengingatnya dulu. ketika kami mendatangi rumah jl. chairil anwar, di halaman rumah itu lagi ada yang nyapu halaman. tapi sumpah ya, kami panggil dia cuek aja! hebat sekali bukan? padahal dia ga lagi pake headset besar gitu loh.. dan saya rasa dya juga ga tuli!
apa dya pikir, kami mw minta sumbangan? emang ada yah orang minta sumbangan pake baju couple dan turun dari  mobil? *kemaren kebetulan saya dan pacar lagi merayakan 10 bulan hari jadian kami*
akhirnya saya teriak : "bang.. kami ini mau anter kartu pemilih.."
dia lalu bilang : "pencet bel aja bang.."


dasar cumi!!! buat apa dia disitu kalo ga bisa panggilin orang ke dalam?
bel di pencet sekitar 5 kali, ada yang teriak dari dalem : "ada apa ya?"
keluar satu orang yang mukanya pembantu abis *maaf,saya emosi* terus kami jelasin kami cuma anter kartu pemilih, silakan tanda-tangani form dan kami cabut.dengan pintarnya dia tanya, apa kami sama dengan orang yang sensus-sensus itu? saya bilang : "beda mba.." terus ga lama si mba itu bilang sama kami ketika kami gunting form antara form buat kami dan form buat pemilih : "bisa cepetan? soalnya ga boleh lama-lama di luar sama ibu". pacar saya bilang : " kami juga ga mau lama-lama mba disini.."
rasanya saat itu juga mau saya bilang, heh! lu liat ya.. kami ini bukan minta sumbangan! demi tugas negara aja kami ngider gini ya.. buat keperluan lu pada juga! untungnya,cuma kepengenan bilang.. saat itu saya ga jadi emosi ngeliat pacar saya yang selama ini sabar-gila jadi agak-emosi.. :p


dulu, kawasan rumah daerah sini banyak ditempati oleh anggota dewan pada awal-awal kemerdekaan, mungkin karena di tengah kota dengan rumah besar dan tanah mahal jadi banyak yang tertarik untuk tinggal disini. dan pada saat ini, kebanyakan rumah-rumah di daerah ini di tempati oleh kepala dinas yang di tempatkan selama beberapa tahun, kayak kapolda, pangdam dan juga orang-orang bank. jadinya ketika kami antar, yah data udah ga valid lagi. orang yang dimaksud udah pindah entah kemana. malah waktu di antar kemarin, ada yang orangnya udah pindah ke afrika. seriuss!!
sekarang, pemukiman daerah sini, diisi sama kebanyakan orang-orang yang individualistis. pagar-pagar rumah yang tinggi, yang rata-rata cuma ada pembantu sedangkan pemilik tinggal di luar negri. lebih  miris lagi kalo rumah gede, di bel-bel pembantu pun ga keluar.
banyak utang kali ya?--- hasil tebakan saya dan pacar atau tebakan yang kedua --- yang punya rumah lagi ada kasus, jadi orang rumah pun takut buat keluar. walopun cuma sebatas pagar..


selama perjalanan kemarin, ada juga yang lucu dan haru. saya ga mau bahas lucunya, karena itu biasa. yang haru? adaaa.. yaitu dari beberapa rumah, ada yang keluar cuma anak seumuran kelas empat atau lima SD dengan takut-takut. saya sih ga keberatan mereka ga buka pager, ngerti koq.. dulu juga masih kecil, kalo di tinggal di rumah saya di ajarin untuk tidak membuka pager atau buka pintu kalo yang bertamu orang ga di kenal.syukurnya mereka komunikatif, jadi kartu pemilih buat mama dan papa mereka bisa di titipkan pada mereka.


pengalaman yang saya dapat sepanjang perjalanan kami kemarin :
"masih sedikit orang Indonesia yang benar-benar sadar akan keperluan kemajuan bangsanya.mengaku nasionalis, tapi melupakan kewajiban sebagai warga negara. 
selalu meminta hak, tetapi ketika di berikan haknya, malah cuek bebek!
mengkritik orang dengan gayanya berkoar-koar di gedung, pembantunya di rumah ga diajarin bertatakrama! 
belajarlah untuk respek sama orang lain, sama sekitar kita!
orang yang datang ke rumah, ga selamanya mau minta uang! 
untuk yang rumahnya di kawasan sekitar RS. Elisabeth Medan, berbahagialah kalian karena sebenarnya kemarin rumah anda di datangi seorang arsitek dan mahasiswa tingkat akhir jurusan ilmu politik. malah bertahun-tahun sebelum kami, mungkin anda ga sadar kalo yang datang dan mengantarkan kartu pemilih anda adalah sepasang dokter *ayah dan mama pacar* dan anda hanya melengos dan tidak membukakan pintu! anda tidak layak di sebut rakyat Indonesia"

2 komentar:

ajeng sekar tanjung mengatakan...

good job.., tularkan semangat dan isme sang arsitek dan mahasiwi semester akhir ilmu politiknya ke semua anak bangsa :)

nadya ratna sari mengatakan...

merdeka! :p